RABU, 13 OKTOBER 2010 | 01:57 WITA | 22461 Hits
Share |

Perjalanan Laut Menyusuri Tarakan-Nunukan-Sebatik (3-selesai)
Rumah di Malaysia Pakai Listrik Indonesia

TEROPONG MALAYSIA. Salah seorang warga negara Indonesia meneropong Malaysia dari tapal batas di Sebatik, pekan lalu. (FOTO BASRI/FAJAR)
Dari Dermaga Sedadap, Nunukan ke Sebatik ditempuh maksimal 15 menit. Cukup singkat, namun rawan kecelakaan.

Irama ombak antara Dermaga Sedadap (Nunukan) dan Mentikas (Sebatik) tidak menentu. Tak heran jika juru mudi katinting tidak akan jalan jika penumpangnya belum memakai pelampung. Terkecuali kalau menggunakan speed boat yang lebih besar, tidak ada aba-aba juru mudi untuk memaksa penumpangnya memasang pelampung. Perjalanan juga cukup singkat, hanya delapan menit.

Karena saya memilih menggunakan katinting yang hanya bertarif Rp15 ribu per orang, maka harus menggunakan pelampung. Meskipun pelampung itu sudah basah dan kancingnya tidak lengkap lagi, saya harus memakainya.

Kecemasan pun menghantui. Apalagi di depan sana ada kapal besar yang melintas, jangan-jangan empasan ombaknya mencelakakan kami. Empasan ombak dari kapal besar itulah yang membuat jalur laut ini kurang aman.

Sebagai orang yang pertama menginjakkan kaki di Sebatik, saya heran begitu tiba di Dermaga Mentikas, Sebatik Barat. Dalam bayangan saya, Sebatik itu kemilau oleh pembangunan kota. Jalanannya mulus, ada mal yang bersih dengan pengunjung yang hiruk-pikuk, dan berbagai pembangunan mewah lainnya.

Bayangan itu didasari oleh seringnya wilayah berbatasan Malaysia tersebut dikunjungi pejabat. Wilayah yang luasnya berkisar 247,47 km persegi itu sering menjadi komoditas pembicaraan hangat para elite politik di tingkat pusat.

Namun, tiba-tiba saya kaget ketika baru naik di dermaga yang semuanya dibangun dengan kayu hitam itu. Gerbang dermaga yang bertuliskan, "Selamat Datang di Desa Binalawan" itu sudah memberi isyarat bagaimana kesederhanaan perkampungan di dalamnya.

Seorang ibu yang lahir dan sudah melahirkan dua anak sejak tinggal di sisi kiri gerbang dermaga itu menjadi saksi orang-orang yang berkunjung ke Sebatik. "Sudah banyak pejabat yang datang ke sini, Pak.

Tapi, sejak orang tua kami berjualan di sini, ya, begini terus dermaga ini," kata ibu yang mengaku telah menjadi asing kalau pulang ke kampungnya di Bone, Sulawesi Selatan. Pada lebaran Idulfitri September lalu, ia ke Bone. "Tapi pusingka, tidak tahu apa mau kukerja. Makanya, tidak bisa lama-lama," katanya sambil menawarkan susu kedele buatan Malaysia.

Berbagai infrastruktur pulau Sebatik yang berada di wilayah Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur itu tengah diperbaiki. Sepanjang perjalanan darat kurang lebih dua jam menuju Desa Aji Kuning dan Sungai Nyamuk, saya mendapatkan empat jembatan yang tengah diperbaiki. Semua sama rusaknya. Saya bahkan terpaksa turun saat mobil tumpangan itu kandas.

Seandainya saja hujan deras, saya pastikan mobil Xenia itu tidak mampu meninggalkan jalan darurat di jembatan yang persis kubangan kerbau itu. Selain jembatan rusak, debu pun menimbulkan kabut sepanjang jalan. Jika ada mobil di depan, sopir berupaya keras untuk melambung karena mobil hitam itu tiba-tiba jadi kuning oleh debu. Wiper kaca depan terpaksa harus bekerja.

Pemandangan di sisi kiri-kanan jalan dipenuhi perkebunan kelapa sawit. Ada juga beberapa lahan yang ditumbuhi cokelat dan pisang. Hanya saja, tanaman kelapa sawit yang saya saksikan di Tawau dan pedalaman Kinabalu, Malaysia tahun lalu, sangat berbeda dengan penataan tanaman di Sebatik.

Selain kelapa sawit di Sebatik penuh rumput, penanamannya juga tidak rapi. Sangat berbeda di Tawau yang demikian rapih dan bersih.

Memasuki Kota Sebatik, sedikit ada dinamika. Di sini ada pasar modern, ada hotel, dan pertokoan. Ringgit menjadi alat utama dalam perniagaan. Lantas bagaimana pengunjungnya? Lebih satu jam saya istirahat di depan hotel berlantai tiga itu, tapi belum ada satu pun pengunjung baru yang masuk.

Lebih satu jam saya duduk di pusat pertokoan sambil santap siang, tapi hanya tiga pengunjung baru yang masuk di tempat makan dan ngopi ini.

Saya lalu mencari tahu, siapa gerangan investor yang "gila" membangun kawasan ini. Saya katakan "gila" karena melihat begitu jarangnya rumah di tempat itu, tiba-tiba ada bangunan komersial yang berbentuk kawasan.

Ternyata, orang yang membangunnya berasal dari Kabupaten Wajo-Bone, Sulawesi Selatan. Namanya, H Herman HB. Pria kelahiran 8 Agustus 1962 itu tidak hanya membangun kawasan perniagaan yang luasnya lebih satu hektare, tetapi juga menyediakan sendiri listriknya. Lantas apa obsesinya?

"Saya hanya bermodalkan keberanian. Saya ingin membangun Sebatik supaya harga masyarakat tetap ada," kata Herman yang datang di Sebatik sejak 1979. Awalnya, ia menumpang di bawah kolong rumah kerabatnya.

Dari kolong rumah itulah, ia terinspirasi untuk terus bekerja hingga berhasil mendapat pinjaman modal Rp10 juta dari salah satu bank. Modal inilah memulai obsesinya. Kini, ia digelari "putra yang menyinari Sebatik". Bagaimana dengan perhatian pemerintah? "Aduh, Pak, hanya malaikat yang belum datang berkunjung ke Sebatik, tapi, kita begini-begini terus," katanya.

Herman juga berjasa membangun nasionalisme di daerah tapal batas. Ia menyumbang untuk membuat tugu merah putih. Itu sebabnya, ketika Dandim, Drs Basri membangun semangat nasionalisme di daerah perbatasan, tidak menemui kendala.

Baik melalui kepramukaan pemuda, maupun di kalangan masyarakat umum. "Saya juga memberi penguatan nasionalisme kepada masyarakat awam dengan jalan menggelar lomba lagu-lagu kebangsaan," kata Basri yang saya temui di kantornya.

Jangan bicara nasionalisme di tapal batas. Dari simbol-simbol prasasti hingga penyikapan masyarakat, hampir semua sudah diupayakan. Jangan pula bertanya soal pertikaian Malaysia-Indonesia kepada masyarakat tapal batas karena ia akan menjawab, "Kami di sini rukun-rukun saja."

Buktinya, beberapa rumah milik warga negara Indonesia yang berdiri di tanah Malaysia dan menggunakan listrik Indonesia, tapi tidak ada masalah. (*)

KOMENTAR BERITA "Perjalanan Laut Menyusuri Tarakan-Nunukan-Sebatik (3-selesai)"


Redaksi: redaksi@fajar.co.id
Informasi pemasangan iklan
Hubungi Mustafa Kufung di mus@fajar.co.id
Telepon 0411-441441 (ext.1437).