SENIN, 03 JANUARI 2011 | 02:32 WITA | 12728 Hits
Shenzhen yang Menggeliat dari Kemajuan Hong Kong Belajar dari Kota Shenzhen Catatan: Syamsu Nur
MAJU PESAT. Bandara Hong Kong dalam suasana menyambut Natal dan Tahun Baru 2011. (FOTO DOK PRIBADI)
Untuk kedua kalinya, saya masuk kota Shenzhen lewat Hong Kong. Kali ini saya melintas ke kota Shenzhen dalam kondisi yang lebih ramai. Mungkin karena saya tiba pada hari Jumat sore. Hari itu bagi penduduk Hong Kong dan Shenzhen adalah hari week end. Hari Sabtu sudah menjadi hari libur mereka.
Hong Kong dan Shenzhen dua kota besar di China yang berdekatan. Seperti kota kembar saja. Jaraknya boleh dikata hanya menyeberang jalan. Tapi keduanya bertumbuh luar biasa. Kedua kota itu bertumbuh dan saling isi-mengisi.
Hong Kong berpenduduk 7 juta jiwa, sementara Shenzhen berpenduduk 14 juta jiwa. Lalu lintas kedua kota itu sangat ramai. Apalagi pada saat week end, hari Jumat dan Sabtu, orang saling melintas semakin ramai.
Melintasi perbatasan kedua kota itu, harus melewati dua pintu imigrasi. Imigrasi Hong Kong dan imigrasi China di Shenzhen. Hong Kong kendatipun pemerintahannya sudah masuk daerah otonomi China, di mana Hong Kong diatur oleh dua sistem. Sistem Inggris dan China. Secara bertahap,nanti setelah 50 tahun Hong Kong sepenuhnya diambil alih oleh China.
Hong Kong sebagai daerah otonomi tetap memberlakukan ketentuan sendiri, seperti mata uang, hukum, bea cukai, imigrasi, pengaturan lalu lintas yang tetap menggunakan jalur kiri. Itu sebabnya, penduduk China yang ke Hong Kong masih diharuskan menggunakan surat jalan dan diperiksa di setiap pintu imigrasi.
Dengan sistem itu pada hari week end Jumat dan Sabtu, ribuan orang yang menyeberang ke Hong Kong. Antrean imigrasi sangat panjang. Antrenya bisa sampai tiga jam. Barang dibawa sendiri. Tidak ada porter atau buruh pengangkat barang. Kalau penduduk dibebaskan menyeberang, maka Hong Kong pastilah menjadi kota yang penuh sesak dibuat pendatang dari China.
Sekarang saja, dengan sistem yang ketat Hong Kong kedatangan turis asing 7,5 juta setahun. Setiap tahun rata-rata mengalami peningkatan 11 persen. Dengan demikian maka peluang bisnis memang sangat terbuka dan tetap menggiurkan.
***
Kota Shenzhen adalah kota yang dipersiapkan menandingi kemajuan Hong Kong. Semula Shenzhen hanya sebuah kota kecil, ibu kota kabupaten. 30 tahun lalu masih berpenduduk 30.000 orang. Sementara Hong Kong sudah luar biasa perkembangannya di bawah pengendalian kerajaan Inggris. Dengan kebijakan pintu terbuka dari pemerintahan Deng Xiaoping, Kota Shenzhen mulai dibangun.
Sepuluh tahun kemudian Shenzhen sudah mulai tampak berubah. Dalam waktu cepat, Shenzhen menjadi kota besar yang luar biasa pembangunannya. Kota itu kemudian dihiasi gedung-gedung pencakar langit. Sebuah hotel yang berlantai 50, dibangun hanya dalam waktu dua bulan.
Setiap lantai diselesaikan dalam waktu sehari saja. Bayangkan jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan. Tapi itu sebuah bukti keseriusan dan semangat membangun cepat. Soal kecepatan membangun maka Kota Shenzhen memang tidak ada duanya.
Setiap orang yang pernah berkunjung ke Shenzhen, kemudian datang lagi untuk kedua kalinya, pasti terkagum-kagum melihat perubahan yang terjadi begitu cepat. Banyak orang setiap tahun pergi ke Shenzhen, hanya mau melihat perubahan yang terjadi, sekaligus melihat kesempatan bisnis yang ada.
Fasilitas jalanan yang mulus dengan kemampuan daya listriknya seakan tanpa batas. Di waktu malam kota bermandikan cahaya lampu warna warni, memberi suasana yang seakan tak ada bedanya antara siang dan malam.
Shenzhen bukan saja sebuah kota yang dipersiapkan untuk investasi dengan beberapa fasilitas, tetapi juga dijadikan kota yang nyaman. Termasuk segi keamanan kota itu sangat diperhatikan. Di mana- mana sudut kota dipasangi CCTV, untuk monitoring kondisi kota. Kebersihan juga menjadi syarat utama, maka siapa saja yang membuang puntung rokok di jalan akan dikenai sanksi denda 5000 yuan. Itu artinya nilainya sama dengan Rp6 juta.
***
Penduduk Kota Shenzhen lebih banyak wanita. Perbandingannya 1:8. Artinya, satu laki-laki berbanding delapan wanita. Jadi penduduk Shenzhen yang 14 juta jiwa itu terdiri atas 12 juta wanita. Jumlah wanita yang banyak itu karena semua restoran, hotel, pertokoan, bahkan pabrik di Shenzhen membutuhkan pekerja wanita yang banyak.
Umumnya perusahaan di Shenzhen melihat kelebihan wanita- wanita di China, selain cantik-cantik dengan kulit putih, mereka juga terlihat sangat lincah dan bergerak cepat. Wanita China, di mana-mana kegiatan selalu menonjol dan menunjukkan sebagai pekerja keras.
Di balik itu senyumnya selalu menawan pelanggan. Tapi itu tidak berarti dengan banyaknya jumlah wanita maka dengan mudah amoy-amoy bisa didapatkan sebagai teman kencan. Setiap orang pendatang selalu diingatkan hati-hati kalau didekati oleh wanita-wanita cantik.
Biasalah di setiap negara sering ditemukan orang yang baik dan juga ada yang tidak baik. Banyak juga praktik wanita cantik yang pintar mengeruk isi kantong. Macam-macam cara dengan buyuk rayu diajak minum di restoran, kemudian dimintai bayaran yang tinggi.
***
Pada dasarnya penduduk tetap Shenzhen cuma 2 juta jiwa. 12 juta lainnya adalah pendatang yang mencari pekerjaan di Shenzen. Tenaga kerja di Shenzhen memang dibutuhkan banyak. Karena industri berkembang pesat. Sebabnya, karena Hong Kong sudah menjadi kota yang padat sekali.
Hong Kong dengan wilayah yang sangat terbatas sudah sulit mendapatkan lahan. Harga tanah di Hong Kong meningkat dan menjadi mahal, biaya tenaga kerja juga cukup tinggi. Maka pengusaha Hong Kong membuka pabrik di Shenzen yang memiliki lahan dan fasilitas yang lebih murah. Keuntungannya adalah biaya produksi menjadi murah karena fasilitas dan tenaga kerja juga rendah dibanding tenaga kerja di Hong Kong.
Juga dampak lainnya banyak penduduk Hong Kong yang membeli rumah di Shenzhen karena harganya murah. Terjadilah tinggal di Shenzhen dan bekerja di Hong Kong, begitu pula sebaliknya. Dan itu pula sebabnya saling melintasi antara dua kota besar itu semakin ramai.
***
Gambaran yang terjadi di Hong Kong dan Shenzhen itu menunjukan bahwa kota terdekat dari kota yang lebih maju bisa mendapatkan manfaatnya. Kota kecil bisa menjadi besar pula apabila ada kebijakaan yang mempersiapkan fasilitas yang dibutuhkan sebuah kota besar tetangganya. Bahkan bisa memacu perkembangan yang lebih cepat lagi. Yang penting sarana jalan dan listrik mencukupi.
Demikian juga faktor keterbukaan menerima investasi dan kerja sama. Dan hal yang utama adalah kemauan keras dari pemerintahnya. Maka, tidak salah kalau kita bisa memahami sabda Nabi Muhammad saw, "Belajarlah sampai ke tanah China." (***)
KOMENTAR BERITA "Belajar dari Kota Shenzhen"
Redaksi: redaksi@fajar.co.id
Informasi pemasangan iklan
Hubungi Mustafa Kufung di mus@fajar.co.id
Telepon 0411-441441 (ext.1437).
|