RABU, 05 JANUARI 2011 | 01:38 WITA | 8791 Hits
Share |

Pelantikan Tomakaka Tinole, Prosesi Melanjutkan Sejarah
Suksesi Pemangku Adat setelah Terhenti Ratusan Tahun

Pemilihan Tomakaka Tinole dilakukan secara aklamasi. Nyaris tanpa riak. Contoh demokrasi dari kearifan masa lalu.

Selasa, 4 Januari, di pelataran Katomakakaan Tinole, Luwu, delapan pemuda bergerak ritmik. Berirama mengikuti hentakan gendang yang bertalu-talu. Mereka memainkan jurus-jurus. Ada yang memegang badik, keris, dan juga tombak.

Di bawah sinaran mentari yang terik, pelantikan Tomakaka Tinole (Baba) digelar di sebuah tenda yang berpelaminan. Tomakaka adalah pemangku adat sebuah wilayah. Perpanjangan pemerintahan Kedatuan Luwu.

Di kekinian, daerah Tinole berada di dua desa; Ilanbatu Uru dan Lamasi Hulu, Kecamatan Walenrang Barat. Kemarin, Reppe Lempo resmi dilantik sebagai Tomakaka Tinole. Dialah penerus pucuk pimpinan rumpun keluarga Pa’ Bangnga.

Sebelum pelantikan, kain panjang berwarna biru muda dibentangkan dari jalan raya menuju tempat pelantikan. Panjangnya seratusan meter. Semacam karpet merah di Hollywood. Kain itu khusus dilalui tamu-tamu agung (VIP).

Ma'dika Bua, A Saipuddin yang mewakili Datu Luwu tiba di lokasi pelantikan saat orang-orang sudah berkumpul di tenda. Delapan pemuda tadi langsung menjemput. Sang Ma’dika duduk di kursi lalu dibopong dengan tandu.

Wakil Bupati Luwu, Syukur Bijak bersama pejabat lainnya menyusul di belakang. Ma’dika dan tamu penting lainnya pun tiba di tenda. Diiringi Ilanbatu, yang diperagakan empat putri asal Walmas.

Sebuah dus yang penutupnya terbuka, ada di tengah. Isinya beberapa lembar uang yang pecahannya beragam. Itu semacam saweran untuk para penari. Sumbernya dari para pengunjung. Syukur Bijak pun ikut merogoh kocek.

Di antara tatapan ratusan orang dan blits kamera para wartawan, pelantikan Tomakaka Tinole digelar. Kabinetnya juga ikut dilantik. Yaitu untuk jabatan Matua, Baliara, Bunga Lalan, dan Anak Tomakaka.
Saat ini, masih ada banyak Katomakakaan yang ada di Tana Luwu. Fungsinya memang tak lagi seperti pada masa lalu. Namun kehadiran Tomakaka tetap diakui sebagai pemimpin adat.

Khusus untuk Katomakakaan Tinole (Baba), diyakini sudah ada sejak abad XVII. Tomakaka Tinole pertama dijabat Pa' Bangnga (Nek Lempo). Masyarakat meyakini batu besar di Tinole sebagai lokasi rumah adat masa lalu.

Esrom Lempo, keluarga tomakaka menjelaskan, daerah Katomakakaan Tinole masih jelas garis-garis wilayahnya. "Saat ini meliputi Desa Ilanbatu Uru dan Lamasi Hulu," katanya di antara riuh prosesi pelantikan.

Sejarah mencatat, setelah Pa' Bangnga (Nek Lempo) wafat, sempat terjadi kevakuman. Tidak ada lagi yang menjabat Tomakaka Tinole. Sejak saat itu, rumpun keluarga Pa' Bangnga berpencar. Kacau balau.

Dalam literatur yang diterbitkan keluarga besar Katomakakaan Tinole disebutkan, sejak mangkatnya Pa' Bangnga, tak ada lagi pergantian Tomakaka Tinole. Artinya sudah ratusan tahun tidak ada suksesi pemangku adat di Tinole.

Hingga pada 16 Februari 2008, sebuah pertemuan digelar di rumah Nenek Lely, salah seorang tetua di Bulo, Walenrang. Pertemuan ini diikuti rumpun keluarga Pa’ Bangnga. Ada juga perwakilan dari Istana Kedatuan Luwu.

Musyawarah berlangsung adem. Reppe Lempo pun terpilih secara aklamasi sebagai Tomakaka Tinole yang baru. Reppe masih tercatat sebagai cucu dari beberapa generasi Pa’ Bangnga alias Nek Lempo.
Pemilihan tomakaka bisa menjadi awal untuk kembali mempersatukan hubungan kekeluargaan generasi Pa’ Bangnga. "Juga sekaligus melestarikan nilai-nilai budaya," ucap Esrom Lempo. (*)

KOMENTAR BERITA "Suksesi Pemangku Adat setelah Terhenti Ratusan Tahun"


Redaksi: redaksi@fajar.co.id
Informasi pemasangan iklan
Hubungi Mustafa Kufung di mus@fajar.co.id
Telepon 0411-441441 (ext.1437).