RABU, 05 JANUARI 2011 | 01:40 WITA | 16255 Hits
Belajar dari Kota Guangzhou Kawin di Suzhou, Makan di Guangzhou, dan Mati di Liuzhou Catatan: Syamsu Nur
.JPG)
Ada pepatah China yang mengatakan: kalau mau kawin, pergilah ke Suzhou, karena di sana terkenal gadis-gadisnya sangat cantik, kulitnya seperti salju, juga alamnya sangat indah. Bukan saja cantik, juga pintar bersolek dengan menggunakan kain sutera yang berwarna-warni. Suzhou memang dikenal sebagai pusat sutra. Lebih dari itu, gadis Suzhou dikenal juga sangat tulus dan setia melayani suami. Yah, apalagi kurangnya gadis Suzhou.
Nah, kalau mau makan enak pergilah ke Guangzhou, di sana restorannya banyak dan makanannya sangat bervariasi dan enak. Tukang masaknya pintar dan pelayanannya ramah dan lincah. Sedang kalau mau mati, pergilah ke Liuzhou, di sana peti matinya sangat indah, terbuat dari kayu sha, yang tidak ada duanya di dunia ini. Kayu sha semacam kayu ulin di Kalimantan, kuat, tapi beratnya lebih ringan dari aluminium.
Menu Makanan, 12 Macam
Dari tiga kota yang memiliki daya tarik itu, saya baru sempat ke Guangzhou. Saya sudah tiga kali ke Guangzhou, dan yang namanya makanan enak, memang sangat diakui. Apalagi kunjungan terakhir ini, pada musim dingin. Kondisi yang membuat badan menggigil, pasti nafsu makan meningkat. Dan restoran yang saya masuki, dua lantai dan semua meja penuh.
Saat itu memang bertepatan berlangsungnya pesta olahraga. Penonton dari luar kota Guangzhou banyak berdatangan. Termasuk banyak anak sekolah yang dikoordinasi dari Hong Kong, datang untuk menyaksikan pertandingan olahraga internasional yang selalu ramai. Otomatis rumah makan diserbu banyak orang.
Umumnya jenis menu makanan di China, terdiri atas 12 macam. Dikeluarkan satu persatu. Jadi beda dengan sistem hidangan makanan padang, satu kali langsung memenuhi meja makan. Makanan China, kita lahap apa yang ada dulu. Nasinya belakangan. Biasanya kalau sudah keluar buah, berarti itu sudah penutup. Nasinya pakai mangkuk, bukan piring.
Jadi makan nasi di China, mangkuk diangkat mendekati mulut baru pakai sumpit, masuk ke mulut. Ternyata asyik juga makan pakai sumpit, biar makanan agak jauh bisa dijangkau juga. Bantuan sumpit itu bisa menjepit makanan, jauh dekat, sehingga proses makan bisa juga menjadi cepat.
Makan Bersama Sambil Ngobrol
Salah satu daya tarik ke suatu daerah adalah makanannya. Guangzhou adalah kota dagang yang utama di China. Sering diadakan even-even internasional. Pesta olahraga, pameran dan pertemuan internasional. Karena itu meramu makanan yang enak bagi pendatang selalu diciptakan.
Boleh dikata, makanan di Guangzhou bisa cocok dengan selera bangsa lain di dunia ini. Bahkan makanan halal juga banyak disiapkan beberapa restoran. Dan yang paling penting, bagi suatu restoran adalah soal kebersihan. China tampaknya sudah memahami ini, karena itu soal kebersihan sangat diperhatikan.
Makan bersama memang menjadi kesukaan orang di China. Kalau ada uang banyak atau dapat rezeki, maka yang pertama dilakukan mengundang teman dan keluarganya untuk makan bersama. Makan bersama mendatangkan rasa keakraban yang dalam. Karena itu tidak heran kalau di meja-meja makan orang China, kedengaran ramai. Mereka ngomong keras sambil diselingi banyak tawa. Karena itu waktu makannya lama.
Masakan di Guangzhou tidak terlalu banyak bumbunya. Yang diutamakan adalah warna, harum dan kelezatan. Restoran di Guangzhou, dibuat suasananya menarik. Ruangannya ditata dengan ciri yang menggambarkan kemewahan, dengan warna ruangan yang menarik.
Juga di ruangan depan tampak akuarium ikan yang masih hidup. Kita bisa saja memilih ikan yang ada dalam akuarium. Termasuk lobster triwarna. Masakan ayam wenchang dan juga masakan bebek yang lezat, termasuk jenis makanan yang selalu muncul di meja makan restoran Guangzhou.
Mengutamakan Cara Penyajian
Pengalaman di Guangzhou memberi pelajaran bahwa salah satu daya tarik suatu negeri adalah makanannya. Cara memasaknya dan cara penyajiannya lebih diutamakan. Membuat suatu masakan enak yang memberi kesan bersih dan gaya menikmatinya, mengundang kesan yang mendalam sehingga orang akan selalu ingat negeri itu.
Variasi masakan di tanah air juga banyak. Cuma mungkin perlu ditata cara penyajian dan pelayanan yang lebih sempurna. Kesan restoran yang bersih dan indah, juga perlu menjadi perhatian sehingga bisa menjadi ciri khas yang mengesankan.
Restoran di Guangzhou bisa menjadi contoh, bahwa makanan suatu daerah bisa menjadi daya tarik tersendiri. Karena itu, mari kita ciptakan makanan enak, bersih dan bervariasi, yang bisa mengesankan tamu kita, dan menjadi salah satu alasan untuk selalu dikunjungi. Soal makanan pun kita bisa juga berkata, mari belajar sampai di tanah China. Tepatnya di Guangzhou. (***)
KOMENTAR BERITA "Kawin di Suzhou, Makan di Guangzhou, dan Mati di Liuzhou"
Redaksi: redaksi@fajar.co.id
Informasi pemasangan iklan
Hubungi Mustafa Kufung di mus@fajar.co.id
Telepon 0411-441441 (ext.1437).
|