KAMIS, 06 JANUARI 2011 | 19:33 WITA | 15269 Hits
Share |

Mengunjungi Pabrik Pengolahan Tire (1)

MESIN PENGERING. Inilah salah satu unit mesin pengering biji tire milik PT Bumi Agromas Sejahtera.
Memanfaatkan Gulma jadi Mata Pencaharian

PERNAH makan jelly? Tahu dari tumbuhan mana jelly itu diolah?

Jelly yang banyak digemari dewasa ini sebagai makanan kaya serat ternyata berasal dari tanaman tire. Tanaman tire adalah jenis tumbuhan yang oleh masyarakat petani sering dicap sebagai tanaman pengganggu atau gulma.

Karena dianggap gulma, tanaman tire kemudian lebih sering dibabat ketimbang dipanen. Padahal potensi ekonominya ternyata lumayan menggiurkan. Dan itu sudah dibuktikan dengan hadirnya pabrik pengolahan biji di bawah bendera PT Bumi Agromas Sejahtera.

Rabu, 5 Januari, penulis mengunjungi pabrik pengolahan biji tire ini di Kampung Lamuru, Desa Sunggumanai, Kecamatan Patalassang, Gowa. Perjalanan ke pabrik ini melalui daerah Samata dan Kampus 2 UIN Alauddin. Sebenarnya tidak begitu jauh jaraknya, tapi karena jalan yang berlubang hingga mirip kubangan kerbau membuat waktu tempuh lebih lama.

Tiba di lokasi, penulis disambut lantai pengeringan biji tire. Ukurannya sekira 50 x 30 meter dengan lantai yang dibuat landai untuk menghindari genangan air. Di tengah-tengah lantai pengering tersebut, ada bangunan berdinding transparan yang sudah diatapi lengkap dengan tungku pemanas. Rupanya bangunan tersebut adalah salah satu alat pengering dengan metode oven polycarbonat. Ukurannya sekira 5 x 7 meter dengan wadah pengering dua tingkat. Di situ sudah terdapat irisan-irisan biji tire yang sedang dikeringkan.

Saat penulis masuk, udara di dalam ruang tersebut lebih panas di banding udara di luarnya, meski penulis tidak membawa alat ukur suhu udara, tetapi sangat terasa bedanya. "Kalau musim hujan, kita panaskan ruangan ini dengan membakar kayu di bagian luar yang suhunya didorong masuk ke ruangan," ujar Direktur Utama PT Bumi Agromas Sejahtera Hasbullah Ibrahim yang mendampingi penulis.

Hanya berjarak 20 meter dari tempat itu, terdapat bangunan cukup luas. Penulis memperkirakan ukurannya 30 x 10 meter. Bagian luarnya ada bangunan semi permanen yang dibuat berlantai bambu, tetapi dihubungkan dengan bangunan utama yang dibuat permanen.

Di atas lantai bambu, biji-biji tire yang masih berbungkus tanah diletakkan. Dua karyawan perempuan sedang bekerja di sesi ini. Mereka bermodalkan alat semprot pada tangan kanan dan kayu yang ujungnya dipasangi paku di tangan kiri untuk menahan atau menggerakkan biji tire saat dibersihkan. Begitu lincah kedua perempuan ini hingga tanah yang menempel di biji tire terlepas perlahan hingga bersih.

Tire yang sudah bersih dikumpulkan pada keranjang untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam gedung melalui lubang yang sudah dibuat khusus dengan wadah bambu yang disusun memanjang. Di dalam gedung, sudah ada bagian yang siap mengoperasikan lima mesin pemotong yang membuat biji tire menjadi irisan-irisan kecil. Mesin ini mirip dengan mesin parut kelapa tetapi irisannya lebih besar.

Hasil irisan tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam mesin pengering. Mesin pengering dalam gedung ini berupa conveyor oven dryer dengan menggunakan bahan bakar gas. Potongan tire yang dihasilkan mesin pengering ini sisa dianginkan sebentar, lalu dikepak dan siap untuk diekspor.

Selain pengeringan conveyor oven dryer, masih ada metode pengeringan lain yang diterapkan di pabrik ini. Yakni pengeringan dengan penjemuran matahari pada lantai yang sudah disiapkan, pengeringan di dalam oven polycarbonat, dan pengeringan dengan sistem pengasapan.

"Dari empat pola pengeringan, pola pengeringan dengan pengasapan yang biaya produksinya paling rendah," kata Hasbullah.

Meski begitu, empat pola pengeringan itu tetap diterapkan secara bersamaan. Hal itu dilakukan untuk mengejar kebutuhan atau permintaan luar negeri yang cukup besar.

Begitu kering, irisan-irisan biji tire kemudian dikemas dalam karung. Karungnya juga sudah dilapisi dengan plastik, sehingga terlindung dari air dan kekeringannya terjaga. Kemasan karung itu sisa menunggu kontainer datang, berarti sudah siap diekspor ke China atau Jepang.

"Untuk kebutuhan market bisa sampai 500 kontainer per bulan. Tapi yang bisa dipenuhi paling 2-3 kontainer per bulan," ungkap Hasbullah.

Kendalanya, kata dia, masyarakat belum percaya bahwa tanaman tire yang selama ini hanya jadi gulma bisa dijual dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Padahal sesungguhnya, tanaman ini sangat gampang dibudidayakan, karena sebagai gulma, tire bisa tumbuh di mana saja tanpa butuh pemeliharaan secara khusus sebagaimana tanaman lain. Selain itu, budidaya tire juga tidak perlu memusnahkan tanaman lain, tetapi bisa ditanam di bawah tanaman lain dengan sistem tumpang sari.

Soal jaminan pasar, PT Bumi Agromas Sejahtera siap teken kontrak dengan petani. Bahkan, tidak sebatas itu, karena perusahaan spesialis konjak ini juga menyiapkan pola kemitraan. Petani cukup membeli bibit dan menyiapkan lahan, Bumi Agromas akan memberikan bimbingan agar tire yang dihasilkan sesuai standar ekspor dan siap membeli, berapapun yang dihasilkan petani.

"Untuk market, kami jaminannya. Berapapun produksi petani, kami siap beli," ujarnya. (bersambung)

KOMENTAR BERITA "Mengunjungi Pabrik Pengolahan Tire (1)"


Redaksi: redaksi@fajar.co.id
Informasi pemasangan iklan
Hubungi Mustafa Kufung di mus@fajar.co.id
Telepon 0411-441441 (ext.1437).