SABTU, 08 JANUARI 2011 | 01:36 WITA | 35416 Hits
Share |

Jalan-jalan ke Sekolah Al Kausar di Kaki Gunung Salak, Sukabumi, Jawa Barat (1)
Biayanya Relatif Mahal, Diminati Orang Berduit asal Sulsel

DISIPLIN. Salah seorang Satpam, Endang Sudrajat di depan gedung SMP dan SMA Al Kausar, Sukabumi, Jawa Barat. (FOTO ALIEF SAPPEWALI/FAJAR)
Biaya bulanan lebih mahal dari biaya semester perguruan tinggi.

PINTU pagar besi berwarna hitam itu tertutup rapat saat FAJAR berkunjung akhir pekan lalu. Tetapi, pagar berukuran kecil di sebelahnya dibiarkan tetap terbuka. Pintu kecil yang hanya bisa dilalui sepeda motor dan pejalan kaki.

Setelah pintu pagar itu, sekira lima meter dari pintu pagar terdapat sebuah palang berwarna zebra (hitam/putih). Di antara pagar besi dan palang itu terdapat sebuah pos satuan pengamanan (Satpam). Letaknya di sebelah kanan pintu masuk.

Di pintu masuk itu pula terdapat baliho berukuran sekira 2x1 meter yang berisi aturan bertamu ke sekolah itu. Dari enam poin yang dicantumkan pada baliho itu, terbayang disiplin ketat yang diterapkan di sekolah tersebut.

Poin pertama dan kedua masih normatif, yakni setiap tamu wajib lapor dan agar setiap pengemudi yang masuk dan keluar membuka kaca jendela atau helm. Poin ketiga hingga enam yang tidak banyak ditemukan di tempat lain.

Salah satunya soal larangan kepada setiap tamu yang berkunjung ke sekolah itu untuk memberikan uang atau berupa apapun kepada Satpam. Mengapa? Jawabannya akan diceritakan pada bagian kedua tulisan ini.

Sekolah ini menjadi buah bibir di sejumlah kalangan. Sejumlah pejabat atau orang-orang berduit menyekolahkan anaknya jauh-jauh ke sekolah yang berlokasi di Desa Babakan Jaya, Kecamatan Parung Kuda, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ini. Termasuk sejumlah pejabat dan pengusaha asal Sulawesi Selatan.

Inilah yang memantik rasa penasaran FAJAR. Apa daya tarik sekolah ini sehingga pejabat mau menyekolahkan anaknya nun jauh di sana? Sekadar informasi, ada dua sekolah yang berada dalam satu kampus, yakni SMP Internat Al Kausar dan SMA Insan Cendekia Al Kausar.

Sayangnya FAJAR datang pada saat yang kurang tepat. "Lagi sepi. Semua siswa pada libur. Mereka mulai libur sejak 25 Desember dan masuk sekolah kembali 9 Januari," kata Paridudin, Satpam yang mengaku baru beberapa bulan terakhir bertugas di Al Kausar.

Paridudin dan rekan-rekannya cukup awas terhadap setiap tamu asing. Dia meminta Kartu Tanda Penduduk (KTP) FAJAR dengan sedikit interogasi. Beberapa kali dia terlihat berbicara dengan rekan-rekannya melalui handy talky untuk menanyakan apakah FAJAR boleh masuk atau tidak.

"Begini saja Mas, sebaiknya nanti ke sini lagi tanggal 9 Januari. Sekarang lagi sepi karena libur. Mestinya sebelum ke sini bikin janjian dulu," tambahnya.

Butuh beberapa menit untuk meyakinkan mereka. Paridudin akhirnya luluh juga setelah mengetahui FAJAR datang dengan naik motor dari Jakarta. Jarak Jakarta-Parung Kuda yang hanya sekira 119 kilometer harus ditempuh empat jam karena macet.

Mereka juga tambah ramah ketika FAJAR menyebut nama Wali Kota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin dan anggota DPR RI Akbar Faizal. FAJAR menjelaskan bahwa kedatangan ke Sukabumi untuk melihat dari dekat sekolah pejabat asal Sulsel itu.

"Saya tidak begitu kenal anaknya. Tetapi memang terkenal bahwa ada anak wali kota Makassar yang sekolah di sini. Kalau anaknya Pak Akbar Faizal baru masuk SMP. Saya lupa namanya," kata Endang Sudrajat, Satpam lainnya.

Siang itu, ada tiga orang Satpam yang sedang bertugas termasuk Endang dan Paridudin. Ketiganya lantas mengizinkan FAJAR berkeliling kompleks kampus yang luasnya sekira 10 hektare. Ketiga Satpam tadi tidak main-main. Kampus itu memang sangat sepi.

Hanya ada beberapa anak-anak usia sekolah dasar yang sedang duduk di tribun lapangan basket. Tempat itu cukup teduh sebab berada di bawah pohon-pohon rindang. Di tengah anak-anak itu, seorang perempuan setengah baya menjelaskan tentang akhlak Rasulullah SAW.

"Mereka adalah anak-anak guru Al Kausar. Beberapa guru memang tinggal di kompleks sekolah ini. Sebagian lainnya tinggal di luar," jelas Endang menunjuk belasan anak-anak yang sedang belajar itu.
SMP Internat Al Kausar dan SMA Insan Cendekia Al Kausar adalah sebuah pesantren modern.

Model seperti ini sebenarnya sudah banyak di Indonesia, termasuk di Sulsel. Namun, sekolah ini memilih banyak perbedaan, termasuk biayanya yang relatif lebih mahal.

Meski berstatus sekolah modern, kampusnya justru berada di perkampungan. Kampusnya dikelilingi sawah yang padinya sedang menguning. Jalan menuju lokasi beraspal, tetapi sudah rusak. Hampir sulit dipercaya jika di lokasi itu terdapat sekolah yang menjadi favorit orang-orang berduit.

Dari Jalan Raya Siliwangi, Parung Kuda, jaraknya sekira tiga kilometer. Sekolah ini berada di kaki Gunung Salak, salah satu gunung api strato tipe A. Berdasarkan sejarahnya, Gunung Salak sempat meletus berkali-kali sekira tahun 1600-an. Letusan terakhir terjadi tahun 1938 berupa erupsi freatik di Kawah Cikuluwung Putri.

Tidak ada mobil angkutan umum ke sana. Yang ada hanya ojek. Tidak mudah menemukan lokasi kampus jika tidak banyak bertanya. Papan nama kampus tidak terlalu mencolok di Jalan Raya Siliwangi. Penanda hanya ada di depan SPBU Parung Kuda. Tetapi, jika mata tidak awas, nyaris tidak terlihat.

Tetapi setelah masuk di Jalan Habib, tempat sekolah berdiri, lokasinya bisa dilihat dari jauh. Kubah menara masjid dalam kompleks kampus berbentuk bola terlihat dari jauh. Di kubah itu terdapat tulisan Al Kausar dengan huruf berukuran besar.

Kampus ini menerapkan konsep pendidikan sekolah berasrama atau internat. Semua fasilitas pendukung pembelajaran ada di sana. Ada asrama siswa, lapangan olahraga, kolam renang, kantin, klinik kesehatan, masjid, perpustakaan, dan laboratorium.

Kondisi ini membuat para siswa sulit untuk jajan sembarangan. Makanan mereka sehari-hari dipastikan bergizi. Untuk jajan di luar kampus atau sekadar membeli barang kebutuhan pribadi, prosedurnya tidak mudah. Harus ada izin tertulis dari pembina asrama.

Bayangkan saja, untuk membeli sebuah es krim di luar kampus, misalnya, mereka harus minta izin tertulis dari pembina. Izinnya pun tak mudah. Kalau permohonan ke luar kampus itu dianggap tidak terlalu penting, izin tak bakal diberikan. Begitu ketat disiplin yang diterapkan di kampus tersebut.

Pengelola tidak bermaksud mengekang kebebasan siswa. Disiplin ketat itu diberlakukan untuk memproteksi siswa dari pengaruh negatif di luar. Itu salah satu bentuk tanggung jawab pengelola atas biaya besar yang harus dikeluarkan untuk bersekolah di Al Kausar.

Berapa biaya untuk sekolah di Al Kausar? Biaya masuk untuk SMP dan SMA tidak jauh berbeda. Untuk SMP terdapat tiga kategori, yakni reguler, murid berprestasi, dan murid lebih satu orang. Kategori ketiga khusus untuk mereka yang dua bersaudara atau lebih.

Begitu diterima di sekolah ini, orang tua harus siap-siap merogoh kantong dalam-dalam. Tidak tanggung-tanggung, biaya masuk yang harus dibayar mencapai Rp42,5 juta per siswa. Hampir setengah dari biaya masuk Fakultas Kedokteran Unhas dan UMI yang mencapai Rp125 juta.

Biaya masuk itu belum termasuk uang pendaftaran Rp600 ribu, uang tahunan Rp3,5 juta, dan uang bulanan Rp4,250 juta. Jika dua atau tiga bersaudara, diberi keringanan uang masuk, yakni hanya Rp25 juta per siswa. Biaya pendaftaran, uang bulanan, dan uang tahunan tetap sama.

Bagaimana dengan murid berprestasi? Pengelola membebaskan uang masuk alias gratis. Siswa yang bersangkutan juga diberi potongan biaya pendaftaran dan uang bulanan. Biaya pendaftaran hanya Rp250 ribu dan uang bulanan hanya Rp1,250 juta. Sementara uang tahunan tetap Rp3,5 juta.

Biaya pendidikan untuk SMA sedikit lebih besar, kecuali biaya masuk yang tetap sama Rp42,5 juta dan uang tahunan Rp3,5 juta. Biaya pendaftaran Rp650 ribu dan uang bulanan Rp4,3 juta. Khusus yang dua atau tiga orang bersaudara, uang masuknya hanya Rp25 juta per siswa.

Potongan biaya juga diberikan bagi siswa yang berasal dari SMP Internat Al Kausar. Biaya masuk hanya Rp20 juta per siswa. Tetapi biaya pendaftaran, uang bulanan, dan uang tahunan tetap sama seperti siswa kategori reguler.

Sama seperti siswa SMP, kategori siswa berprestasi juga dibebaskan biaya masuk. Yang mereka bayar hanya biaya pendaftaran Rp300 ribu, uang bulanan Rp1,3 juta, dan uang tahunan Rp3,5 juta.
"Sebenarnya relatif ya. Orang-orang yang menyekolahkan anaknya di sini malah bilang murah," kata Kepala SMP Internat Al Kausar, Wahyu Hermawan terkait biaya pendidikan yang mencapai puluhan juta itu.

Mengapa biaya pendidikan di Al Kausar begitu mahal? Lalu apa saja keunggulan sekolah itu sehingga orang-orang berduit rela merogoh kocek dalam-dalam? Jawabannya ada pada bagian kedua tulisan ini. (*)

KOMENTAR BERITA "Biayanya Relatif Mahal, Diminati Orang Berduit asal Sulsel"


Redaksi: redaksi@fajar.co.id
Informasi pemasangan iklan
Hubungi Mustafa Kufung di mus@fajar.co.id
Telepon 0411-441441 (ext.1437).