MINGGU, 09 JANUARI 2011 | 10:18 WITA | 34368 Hits
Share |

Jalan-jalan ke Sekolah Al Kausar di Kaki Gunung Salak, Sukabumi, Jawa Barat (2-Selesai)
Dibangun Adik Habibie, Calon Siswa Wajib Tes Urine

DISIPLIN. Tidak sekadar cerdas, siswa-siswi Al Kausar dituntut mandiri dan menegakkan sikap disiplin selama menjalani masa pendidikan di sekolah.
Nama Habibie menjadi salah satu daya tarik sekolah ini.

SEBUAH foto close up Presiden RI ke-3 Baharuddin Jusuf Habibie langsung terlihat ketika membuka website Al Kausar. Di samping foto Habibie yang sedang tersenyum itu ditampilkan testimoni Habibie tentang peningkatan kualitas SDM.

Dalam testimoninya, Habibie secara khusus memuji sistem pendidikan yang diterapkan di Al Kausar. Dalam kunjungannya ke sekolah itu pada 14 Februari 2004, Habibie mengatakan bahwa ada tiga poin penting untuk peningkatan kualitas SDM.

Ketiga poin itu adalah pembudayaan, pengetahuan, dan pendidikan. Dia menguraikan bahwa pembudayaan adalah penguatan terhadap budaya dan agama untuk menghasilkan prilaku yang selalu menyenangkan, bermoril dan memiliki indeks tinggi.

Pengetahuan adalah mendidik anak sehingga ia selalu ingin tahu. Pendidikan adalah berguna agar anak didik bisa memanfaatkan teknologi dan ilmu pengetahuan. "Merujuk pada tiga point di atas, saya menemukan hal itu pada pola pendidikan di Internat Al Kausar," kata Habibie dalam testimoninya di website resmi Al Kausar Boarding School.

SMP Internat Al Kausar dan SMA Insan Cendekia Al Kausar memang bukan milik Habibie. Sekolah ini diprakarsai adik bungsu Habibie, yakni Sri Rahayu Fatima Habibie. Selama ini Sri Rahayu terjun di dunia usaha perdagangan dan pendidikan. Ini pula yang membuat banyak orang kaya asal Sulsel menyekolahkan anaknya di Al Kausar.

Ikatan emosional dengan Habibie masih sangat kental. Tidak hanya itu, Habibie selama ini dikenal sebagai ikon orang cerdas Indonesia. Orang yang menyekolahkan anaknya di Al Kausar berharap anaknya cerdas seperti Habibie.

Biaya pendidikan yang tergolong mahal di Al Kausar pun tidak dipedulikan. Bayangkan saja, untuk biaya masuk saja, orang tua siswa mesti membayar Rp42,5 juta. Belum termasuk biaya bulanan dan biaya tahunan yang mencapai jutaan rupiah.

Mengapa biaya masuk AlKausar sangat mahal? Benarkah ada jaminan bahwa seluruh anak yang sekolah di sana dijamin cerdas? Soal biaya, dianggap relatif. Bahkan pihak sekolah menganggapnya biayanya masih wajar-wajar saja.

Kepala SMP Internat Al Kausar, Wahyu Hermawan mengatakan dengan biaya Rp42,5 juta itu plus uang bulanan dan uang tahunan seluruh kebutuhan siswa sudah ditanggung. Orang tua tidak perlu lagi mengeluarkan biaya tambahan.

Menurut Wahyu, setiap siswa di SMP Al Kausar maupun SMA Al Kausar ditanggung pakaiannya. Mulai seragam sekolah, jaket almamater, pakaian olahraga, pakaian muslim, tas sekolah, topi. Sekolah juga menanggung buku-buku pelajaran, buku dan alat tulis sekolah, serta biaya praktikum dan kegiatan ekstrakurikuler.

Biaya bulanan yang dibayarkan setiap siswa digunakan untuk biaya pendidikan, biaya makan, biaya pengelolaan asrama, laundry, dan klinik kesehatan. Bisa dikatakan semua sudah lengkap di kampus tersebut sehingga siswa tinggal konsentrasi belajar.

Tetapi bagi warga biasa, biaya Rp42,5 juta plus biaya bulanan dan tahunan yang mencapai jutaan rupiah tetaplah sangat mahal. Jangankan untuk membayar biaya masuk, untuk membayar biaya tahunan saja tidak banyak yang mampu.

"Oh, Al Kausar. Itu sekolah mahal Mas. Mungkin di Kabupaten Sukabumi ini bisa dihitung jari yang sekolah di situ. Kalau seperti saya yang petani tidak kebayanglah," kata Asep Kamaruddin, warga Desa Babakan Jaya yang rumahnya hanya sekira 200 meter dari sekolah.

Dengan biaya mahal dan fasilitas lengkap membuat aturan sangat ketat di Al Kausar. Tidak mudah seorang siswa untuk keluar kampus untuk urusan sepele atau sekadar beli sabun mandi. Setiap siswa ingin keluar kampus harus mengantongi izin tertulis dari pembina.

Ketatnya izin keluar kampus ini juga ada kaitannya dengan larangan memberi sesuatu kepada Satpam. FAJAR sempat berpikir bahwa gaji Satpam yang berjumlah 16 orang di Al Kausar mungkin jauh lebih tinggi dari Satpam kebanyakan. Sampai-sampai mereka dilarang menerima pemberian orang lain.

"Hehehe...tidak begitu. Gaji mereka standar kok. Sama halnya dengan guru-guru. Larangan itu dimaksudkan agar Satpam bisa bekerja secara profesional. Kalau ada yang memberi, kami khawatir perlakuannya berbeda," jelas Wahyu.

Makanya, jika ada orang tua siswa yang ingin memberikan sesuatu kepada Satpam atau guru disarankan agar tidak diserahkan secara personal. Selain bisa memancing kecemburuan, perlakuan Satpam dan guru terhadap siswa juga bakal berbeda. Bisa jadi ada kelonggaran izin terhadap siswa yang orang tuanya royal.

Dengan fasilitas kampus yang lengkap siswa Al Kausar memang tidak perlu berpikir macam-macam. Semua sudah disiapkan, termasuk fasilitas olahraga. Kolam renang juga ada sehingga siswa bisa menyalurkan hobinya selepas belajar.

Lantas adakah jaminan bahwa seluruh alumni Al Kausar lebih cerdas? "Oh, tidaklah. Biasanya sangat tergantung dengan siswa yang bersangkutan. Tidak semua yang sekolah di sini berhasil. Ada juga beberapa yang gagal. Mereka keluar sebelum tamat," kata Wahyu. Yang berhasil, kebanyakan sudah kuliah dan bahkan sudah bekerja. Wahyu mengatakan cucu-cucu mantan Wakil Presiden HM Jusuf Kalla sekolah di sana. Namun, Wahyu tidak menyebutkan namanya.

Selain cucu Jusuf Kalla, putra Sulsel yang sekolah di sana antara lain anak Guru Besar Unhas Prof Wardihan Sinrang. Ada juga anak Wali Kota Makassar, Zulfikar dan Amirul yang sekarang sudah tamat. Selain itu, ada juga putra anggota DPR RI Akbar Faizal, yakni Gagah Ananda Faizal. Gagah baru saja masuk di SMP Internat Al Kausar. "Ada juga pengusaha SPBU asal Makassar. Ada tiga anaknya yang sekolah di sini," jelas Wahyu.

Saat ini SMP Internat Al Kausar dan SMA Insan Cendekia tengah membuka pendaftaran siswa baru. Ujian masuk rencananya berlangsung 22 Januari. Pendaftaran dilakukan secara online. Yang menarik, selain ujian tertulis dan wawancara, setiap calon siswa juga diwajibkan untuk tes urine. Tes ini terutama diwajibkan kepada siswa yang telah dinyatakan lulus tes tertulis. Tes urine mutlak dilakukan untuk menjamin siswa Al Kausar bebas dari obat-obatan terlarang.

Rokok juga sangat diharamkan di Al Kausar. Jika ada siswa yang ketahuan merokok, langsung dipulangkan ke daerah masing-masing. Salah seorang orang tua siswa, Akbar Faizal mengaku menyekolahkan anaknya di Al Kausar agar bisa mandiri. Berkaca pada pengalaman pribadinya, Akbar yakin jika anak- anak dibiasakan mandiri, maka dia bisa lebih bertanggung jawab.

"Sebenarnya banyak keluarga yang tidak setuju anak saya disekolahkan jauh-jauh. Tetapi pola seperti ini penting. Anak-anak menjadi lebih cepat mandiri dari yang seharusnya," jelas politikus Partai Hanura ini. Adakah kemajuan yang dirasakan setelah beberapa bulan masuk SMP Al Kausar? Akbar mengatakan anaknya masih sedikit kerepotan. Gagah masih terus beradaptasi dengan disiplin ketat yang diberlakukan di sekolah itu. Misalnya, wajib bangun salat lail setiap hari dan sebagainya.

Itu makanya, kesempatan liburan ini dimanfaatkan Akbar untuk membawa anaknya jalan-jalan ke luar negeri. Tiga negara jadi tujuannya, yakni Singapura, Malaysia, dan Thailand. Dia mengaku anaknya sangat menikmati liburan itu setelah harus mengikuti pola pesantren yang sangat ketat. (*)

KOMENTAR BERITA "Jalan-jalan ke Sekolah Al Kausar di Kaki Gunung Salak, Sukabumi, Jawa Barat (2-Selesai)"


Redaksi: redaksi@fajar.co.id
Informasi pemasangan iklan
Hubungi Mustafa Kufung di mus@fajar.co.id
Telepon 0411-441441 (ext.1437).