MINGGU, 09 JANUARI 2011 | 17:46 WITA | 87105 Hits
Share |

Menelusuri Remang-remang Kota Tasikmalaya
Penjaja Seks di Kota Ini Komplit
Laporan Khusus Dari Radar Tasikmalaya

TASIKMALAYA sekarang bukan kota sepi lagi. Kehidupan malamnya makin semarak.Gebyar kehidupan malam, kafe, karaoke, warung remang-remang dan tempat-tempat hiburan lain, telah menjadi menu hiburan di kota Tasikmalaya. Tim Radar Tasikmalaya menelusuri geliat kehidupan malam di kota ini untuk Fajar Online.

Jarum jam saat itu menunjuk pada pukul 22.30. Belum terlalu larut, untuk menelisik kehidupan malam di kota ini. Kami pun ingin mengetahui kehidupan malam yang selalu dicari oleh sekelompok orang yang mencari sebentuk kepuasan pribadi, atau mencoba mencari oase pembebasan dari belenggu aktivitas rutin sehari-hari. Ia telah menjadi semacam magnet yang menarik siapa saja yang ada di sekelilingnya. Ujung- ujungnya, tak jauh dari seks dan uang. Mungkin karena desakan ekonomi, atau mungkin karena gaya hidup yang sudah berubah, mencari tempat hiburan malam atau pun dunia kenakalan malam tidak lagi susah di kota ini,

Kami mulai penelusuran di kawasan Dadaha. Kawasan ini sudah dikenal sebagai tempat mangkalnya PSK. Antara tahun 2005-2008 di kawasan Dadaha memang berdiri puluhan kafe yang kerap dijadikan tempat maksiat. Kondisi ini sempat membuat Pemkot gerah, yang kemudian menyulapnya menjadi taman kota. Toh upaya Pemkot tak serta merta berhasil. Tempat ini tetap saja masih menjadi tempat tujuan wisata sex saban malamnya.Tengok saja kalau malam hari di sekitar GOR Susi Susanti masih ada saja ABG atau PSK yang mangkal. Selain ABG ada juga waria (bencong) yang suka nonngkrong di kawasan itu. Kawasan ini diakui oleh mereka (para PSK dan bencong) sebagai tempat yang nyaman untuk mangkal. Apalagi lampu penerangan di kawasan tersebut masih minim.

Di tempat ini kami menjumpai seorang remaja, sebut saja namanya Mawar. Usianya baru 17 tahun. Sepintas, Mawar memang bukan remaja nakal. Tampilannya tomboy.Dandanan biasa, tanpa make up, kalau bicara ceplas-ceplos seperti layaknya ABG Jakarta. Ia supel dan pandai bergaul. Meski begitu, tak mudah untuk langsung bisa mengajak kencan dirinya. "Deal dulu sama bos, baru kita bisa jalan," kata Mawar nakal.

Seorang warga Dadaha Hendro mengakui, sekalipun kafe-kafe di kawasan ini sudah dihabiskan namun tidak susah untuk mencari hiburan sex di kawasan ini. " Mereka hanya sembunyi kalau diburu satpol PP, kalau sama yang lain mah pastilah tidak sembunyi," ujar Hendro. Ia mengakui, setiap remaja yang mangkal di sini, tidak bisa langsung diajak negosiasi. "Mereka semua ada perantaranya (germo red). Dan pada umumnya mereka tidak mau langsung-langsung," Hendro menambahkan.

Soal Tarif, lagi-lagi Hendro menyebut paket hemat. "Cukup dengan beberapa lembar ratusan ribu aja," ujarnya. Ia memberikan tip, kalau mau mendapatkan harga murah maka datanglah pada tengah malam. "Kian larut kian murah," ujarnya. Malahan, lanjut Hendro, bagi yang sudah terbiasa ke sini, ada yang menyebut tarif "cendol".

Begitulah keadaannya. Hendro memastikan maraknya malam panjang di Tasikmalaya tidak lepas dari himpitan ekonomi dan kian banyaknya tuntutan hidup. "Ya memang ada yang beralasan akibat kegagalan bercinta. Tetapi, saya tidak yakin. Karena pada umumnya toh mereka berusaha mencari uang di sini," Hendro menegaskan. Mawar yang sedari tadi menemani perbincangan ini membenarkan penjelasan Hendro.

Selain kawasan Dadaha keramaian malam juga bisa dijumpai di kawasan perempatan Jalan KH Zaenal Mustofa atau perempatan Nagarawi. Ada sebuah kafe yang diduga dijadikan tempat mangkal para wanita di kawasan itu. Kafe tersebut buka hingga dinihari. Malam itu ada lima mobil yang mangkal, sementara beberapa wanita muda tampak dengan dandanan seksi. Usianya rata-rata 20 tahunan Setelah ditelurusi rupanya mereka adalah para pemandu lagu yang memang mencari makan setelah bekerja menjadi pemandu lagu.

Hamdan, warga Ciamis yang mengaku sudah menjadi member tetap di kafe ini mengatakan, cewek-cewek yang mangkal di kafe ini pada umumnya berprofesi sebagai SPG. Ada juga yang berprofesi sebagai Pemandu Lagu di Karaoke. "Kalau siang jadi SPG, kemudian malamnya jadi pemandu lagu juga banyak," kata Hamdan. Tidak sedikit pula yang masih berstatus mahasiswi.

Dibandingkan di kawasan Dadaha, kawasan Zaenal Muztafa agak lebih mahal. "Tarifnya antara Rp 300 ribu hingga Rp 1 juta," Hamdan menjelaskan. Tidak mengherankan jika kawasan tersebut disebut tempat mangkalnya ABG kelas atas karena yang bawanya rata-rata pakai mobil. Menurut Hamdan, kehidupan sex di kota ini sudah sangat lengkap. Untuk kelas menengah ke bawah tempat mangkalnya di kawasan Jalan Yudanegara, Jalan PLN, dan Jalan Gunung Sabeulah. (tsk/aj/jpnn)

KOMENTAR BERITA "Penjaja Seks di Kota Ini Komplit"


Redaksi: redaksi@fajar.co.id
Informasi pemasangan iklan
Hubungi Mustafa Kufung di mus@fajar.co.id
Telepon 0411-441441 (ext.1437).