SENIN, 10 JANUARI 2011 | 02:26 WITA | 33878 Hits
Share |

Dampak Anomali Cuaca terhadap Pertanian di Sulsel (1)
Hama Kepik Hitam Subur, Menggerogoti Padi Petani

HUJAN tak menentu atau anomali cuaca sejak 2010 lalu mulai berimbas pada tanaman padi di Sulsel. Sejumlah kabupaten penghasil beras di Sulsel, terutama Sidrap dan Pinrang, mulai mengalami penurunan produksi.

Penurunan produksi beras di dua lumbung pangan ini, tidak hanya dipicu oleh terganggunya musim tanam dan masa panen, tetapi juga munculnya virus kepik hitam yang diduga muncul karena hujan tak berkesudahan. Virus ini menyerang biji padi hingga kosong. Kalau pun isi masih tersisa, kualitasnya jelek. Warna beras yang dihasilkan kekuning-kuningan dan berasa pahit.

Kepik hitam adalah jenis hama pachybracius pallicornis atau rice black slender bug. Menurut peneliti Balai Besar Pertanian Tanaman Padi (BBPTP) Jawa Barat, Sukamandi, hama yang mengganggu tanaman padi di Sidrap, perlu diwaspadai karena jenis hama pachybracius pallicornis atau rice black slender bug ini, akan menghisap isi biji padi saat matang susu, mengakibatkan biji padi menjadi ramping. Bila gabah tersebut digiling kata Sukamandi, berrasa pahit.

Tahun lalu, produksi beras di Pinrang masih mengalami peningkatan sekira 5 persen. Namun bayang-bayang serangan hama kepik hitam yang sudah beraksi di Sidrap mulai mengkhawatirkan petani di Bumi Lasinrang. Hama ini menggerogoti isi biji padi, sebagian kosong yang masih tersisa kualitasnya anjlok.

Pinrang, salah satu pemasok beras di Sulsel, dengan luas wilayah 1.961,77 kilometer atau 3,15 persen dari luas wilayah Sulsel. Jenis tanahnya adalah aluvial, grumosal, regusal, brown forest, dan padsolik. Jenis tanah yang cocok untuk tanaman padi ini berada di 12 kecamatan.

Luas wilayah tersebut terbagi atas hutan 93.360 hektare, sawah 48.090 hektare dengan potensi tanam 2-3 kali per tahun, perkebunan 13.340 hektare, tambak 11.613 hektare, rawa 1.205 hektare, kolam 160 hektare, padang rumput 6.905 hektare, permukiman 11.167 hektare, lain-lain 10.377 hektare.

Dengan luas persawahan 93.360 hektare, pada musim tanam 2009 Pinrang menghasilkan 532.832 ton gabah kering giling. Meski meningkat dibandingkan musim tanam sebelumnya, produksi ini, oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan legislatif Komisi II DPRD Pinrang, dinilai masih sangat minim (data produksi lihat grafis).

Apalagi bayang-bayang kepik hitam yang sudah menyerang kabupaten tetangganya, Sidrap, dikhawatirkan hijrah ke Pinrang dan menyerang tanaman padi petani.

Penurunan produksi tanaman padi musim tanam lalu diakui Ketua Kelompok Tani Buttu Tangnga Kecamatan Lembang, Made. "Dulu kelompok tani kami bisa menghasilkan 70 karung per hektare. Tapi sekarang syukur kalau bisa dapat 38 karung per hektare," ungkap petani berusia 45 tahun ini.

Made menambahkan, hama kepik hitam ini, tidak hanya menyerang padi sebelum panen, tetapi juga menggerogoti isi gabah yang sudah dimasukkan ke dalam karung. "Biar gabah dalam karung, tetap saja dimakannya hingga isi terkuras dan yang tersisa berasa pahit," katanya.

Data ABS

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Pinrang, H Syamsul Sulaeman, lewat stafnya di bagian produksi, Hawa, menyebut produksi padi musim tanam tahun lalu meningkat 5,08 persen, yakni 534.409 ton bila dibanding musim tanam 2009 yang hanya 507.117 ton . "Data ini bukan ABS pak, sesuai laporan dari bawa," klaim pada FAJAR, kemarin.

Tak ayal, LSM Pengembangan Potensi Alam dan Masyarakat (PPAM) yang dipimpin Husain Siradjuddin SH, mengkritik sikap Pemkab Pinrang. Husain menganggap laporan peningkatan produksi hanya di atas kertas, tidak sesuai fakta di lapangan.

"Kalau data pertanian saja tidak jujur, tak mungkin kita bisa merealisasikan cita-cita menjadi daerah agropolitan. Dinas terkait harus mengakui kekurangan dan bersedia memperbaikinya," kata Husain. Dia menilai harga beras petani di Pinrang anjlok karena kualitas jelek yang diduga akibat serangan kepik hitam.

Dia khawatir musim tanam awal tahun ini, serangan kepik hitam ini bakal lebih ganas. Dan, mahluk ini mulai mengkhawatirkan petani. "Kalau penyakit ini tetap saja menyerang padi petani pada musim tanam ini, petani akan angkat kaki. Sebagian sudah menyatakan akan mencari sumber penghasilan lain.

Akibat serangan virus kepik hitam, produksi padi pada musim tanam 2010 hanya 175 ton per September. Angka itu jauh merosot disbanding musim tanam 2009 yang mencapai 242 ton lebih.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Sidrap, Amiruddin Syam, mengatakan, penurunan produksi beras karena serangan kepik hitam. Virus ini menurut dia, menggerogoti isi biji padi saat matang hingga sebagian kempis dan selebihnya mengecil mengakibatkan kualitas padi menjadi sangat rendah.

Amiruddin mengakui, kepik hitam ini tidak hanya di Sidrap, tetapi juga sudah menyerang padi di kabupaten lain seperti Luwu, Pinrang, Soppeng, dan Wajo. Hama ini, diduga muncul karena musim penghujan yang tak berkesudahan.

Diduga Sabotase

Di balik mewabahnya virus kepik hitam yang tiba-tiba menyerang sebagian tanaman padi petani di Pinrang, tak ayal memunculkan kecurigaan ada unsur kesengajaan dan sabotase. Ketua Komisi II DPRD Pinrang, H Mukhtar, bahkan menduga ada sindikat yang sengaja menyebar penyakit ke sentra perberasan di Pinrang dan Sidrap. "Penyebaran hama penyakit ini sengaja disebar oleh sindikat yang sudah melebihi tindakan terorisme," kata Mukhtar kepada FAJAR, belum lama ini.

Dugaan adanya penyebar virus ini, dikaitkan dengan laporan beberapa petani di Kecamatan Lanrisang, yang tanaman padinya diserang hama. Petani menemukan gelas plastik teh dijepit bambu dan di dalamnya ada telur-telur hama siap menetas. Telur ini diduga adalah virus kepik hitam.

Barang bukti ini, menurut Mukhtar, sudah diserahkan ke Dinas Pertanian untuk diperiksa di laboratorium agar dapat diketahui apakah barang bukti ini erat kaitanya dengan hama kepik hitam yang kini meresahkan petani di dua daerah penyangga beras (Pinrang dan Sidrap).

Dia berharap Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pinrang benar-benar memberikan data sesuai fakta di lapangan. "Kalau petani lapor 36 karung, jangan Dinas Pertanian melaporkan 63 karung ke Bupati," tegasnya.

Benar atau tidaknya senyalemen itu, memang masih butuh waktu untuk membuktikannya. Tapi satu hal yang pasti, akibat serangan virus kepik hitam ini, selain merugikan petani, juga konsumen, karena beras yang dihasilkan tak layak dikonsumsi karena berasa pahit. (nas)

KOMENTAR BERITA "Hama Kepik Hitam Subur, Menggerogoti Padi Petani"


Redaksi: redaksi@fajar.co.id
Informasi pemasangan iklan
Hubungi Mustafa Kufung di mus@fajar.co.id
Telepon 0411-441441 (ext.1437).