SELASA, 11 JANUARI 2011 | 02:03 WITA | 13873 Hits
Share |

Dampak Anomali Cuaca terhadap Komoditas di Sulsel (2)
Produksi Anjlok, Harga Garam Melonjak

MUSIM penghujan yang berkepanjangan membuat produksi garam di Jeneponto merosot. Warga yang berpenghasilan utama dari tambak garam akhirnya mencari pekerjaan lain agar dapur mereka tetap mengepul.

Hujan yang turun tak menentu menjadi permasalahan di hampir seluruh negara. Musim yang disebut anomali cuaca ini, membuat banyak negara di dunia khawatir bakal terjadi lonjakan harga pangan akibat krisis produksi.

Hal ini pun mulai dirasakan di tanah air, termasuk di Sulsel. Harga-harga komoditas pertanian melonjak. Tak terkecuali garam yang dihasilkan warga Jeneponto ikut melambung akibat kurangnya pasokan.

Petani garam di Butta Turatea ini, mulai kesulitan memproduksi kristal garam akibat curah hujan berkepanjangan. Persediaan mereka semakin menipis. Bahkan, banyak petani garam berhenti produksi dikarenakan air laut tidak mendapatkan panas matahari yang cukup.

"Proses produksi garam tetap mengandalkan panas matahari.Tahun lalu musim kemarau cukup panjang sehingga petani dapat meningkatkan penghasilan. Tahun ini, karena hujan terus-menerus sangat mengganggu proses pembuatan garam," kata salah seorang petani sekaligus pengumpul garam di Desa Punagaya, Bangkala, Jeneponto, H Daeng Rajab saat ditemui FAJAR di rumahnya, pekan lalu.

Rajab menambahkan, akibat hujan yang tidak menentu membuat ratusan petani garam di Butta Turatea, berhenti sementara berproduksi. Mereka menanti kemarau datang baru kembali mengelola lahan masing-masing.

Rajab memiliki lahan seluas dua hektare. Tapi, dia tidak turun langsung menggarapnya. Dia mempekerjakan pihak lain dengan system bagi hasil 40:60 untuk pemilik lahan. Misalnya, setiap panen menghasilkan 50 karung ukuran 50 kilogram, maka Rajab berhak atas 20 karung.

Akibat terhentinya produksi garam, banyak petani garam berubah haluan. Ada yang ke Makassar mencari rezeki dengan berprofesi sebagai tukang (pengayuh) becak, ada juga yang menjadi tukang batu. Semuanya demi mengepulkan asap dapur mereka di rumah.

Kendati demikian, ada juga petani garam yang mempunyai lahan sawah dan kebun. Untuk kelompok ini, tidak ada masalah. Selebihnya, yang tak punya lahan dan kurang punya nyali hijrah ke Makassar, memilih menjadi penjual "lammang" (lemang) di pinggir jalan poros Jeneponto.

Rajab mengungkapkan, tahun lalu dia sukses memproduksi 250 ton.Tapi, kala itu harga per karungnya hanya Rp17 ribu. Namun, total transaksi yang tercatat mencapai Rp612 juta. "Sekarang, produksi sangat kurang. Stok di gedung juga sudah habis," jelasnya.

Pantauan FAJAR, akibat menipisnya stok harga garam sekarang mencapai Rp70 ribu per karung ukuran 50 kilogram. Jauh melonjak dari harga normal yang hanya Rp17 ribu.

Terhentinya produksi dan menipisnya stok garam, juga diakui Sampara. "Setiap tahun, musim kemarau biasanya sejak Juli hingga Desember. Namun tahun lalu, hujan terus turun hingga awal tahun ini. Ini benar-benar menyulitkan kami," kata petani garam asal Kampung Pacelanga, Kelurahan Palengu, Kecamatan Bangkala ini.

Sampara mengungkapkan, hasil panen garam dari Jeneponto biasanya dipasarkan ke NTT dan NTB serta sejumlah kabupaten lain di Sulsel. Bahkan ada yang menjualnya hingga ke Jakarta.
"Akibat cuaca buruk seperti sekarang ini, produksi garam terhenti total. Bila hujan terus mengguyur, harga garam bisa mencapai sepuluh kali lipat dari harga biasanya," kata Sampara.

Seiring tidak menentunya cuaca, ungkap Sampara, kegiatan ekonomi masyarakat di Kampung Pacelanga, benar-benar berhenti. Padahal kalau cuaca normal, produksi garam Pacelanga bisa mencapai 30 ton per bulan.

Tidak Maksimal

Benarkah seperti itu? Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Pertambangan dan Energi (Disperindagtambe) Jeneponto, Burhanuddin S Baso, yang dikonfirmasi, mengaku tidak punya data. "Maaf, bagian bidang industri yang menangani data produksi garam tidak masuk," ujarnya.

Berdasarkan data FAJAR, luas areal penggaraman yang ada di daerah ini mencapai 556,55 hektare, dengan unit usaha garam rakyat sebanyak 816 unit. Unit usaha tersebut tersebar di empat kecamatan; Arungkeke, Tamalatea, Bangkala, dan Bangkala Barat. Produksi riil garam setiap tahunnya rata-rata 11.629 ton dengan nilai mencapai Rp4,5 miliar per tahun.

Melihat luas areal penggaraman, produksi garam Jeneponto dalam setahun seharusnya bisa mencapai 150.000 ton. Tetapi karena tidak dikelola dengan teknologi yang memadai sehingga produksi hanya rata-rata 11.629 ton setiap tahun.

Pemerintah Jeneponto sendiri dilaporkan akan menghentikan impor garam konsumsi pada 2012. Bahkan pada 2015, akan menghentikan impor garam produksi. Selama ini total kebutuhan garam nasional dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan.

Kebutuhan 2007 sebesar 2,6 juta ton, pada 2008 meningkat tajam hingga mencapai 2,7 juta ton. Pada 2009 kebutuhannya diprediksi mencapai 2,8 juta ton. Kebutuhan itu mencakup garam rumah tangga, industri alkali (Chlor Alkali Plan/CAP), industri pangan, pengeboran minyak, dan industri lainnya.

Sedangkan data Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), yang dikutip dari website resminya, produksi garam nasional pada 2008 hanya sekitar 1,2 juta ton. Dengan menggunakan perkiraan angka produksi yang sama dibandingkan perkiraan kebutuhan garam nasional 2009 yang mencapai 2,8 juta ton, maka ada kekurangan sebesar 1,6 juta ton. Angka ini digunakan oleh pemerintah sebagai patokan untuk melakukan impor garam.

Impor garam beryodium pada 2010 juga diperkirakan naik dibandingkan kuota impor 2009, menjadi 300.000 ton, mengingat produksi lokal pada tahun yang sama hanya mencapai 1,1 juta ton dari total kebutuhan 1,4 juta ton. Menurut Asosiasi Produsen Garam Konsumsi dan Beryodium (Aprogakob), kuota impor garam beryodium 2009 sebesar 200.000 ton. Jumlah itu sama dengan kuota tahun sebelumnya.

Realisasi impor garam iodisasi untuk 2009 hanya 99.754 ton atau sekitar 80 persen dari total jumlah yang dialokasikan kepada tiga importir produsen 117.500 ton. Semula Depdag menetapkan kuota impor garam iodisasi pada 2009 sebesar 200.000 ton. Namun, hanya direalisasikan pembagian kuota impor 117.500 ton karena alasan pemenuhan kebutuhan garam dari dalam negeri. (*)

KOMENTAR BERITA "Produksi Anjlok, Harga Garam Melonjak"


Redaksi: redaksi@fajar.co.id
Informasi pemasangan iklan
Hubungi Mustafa Kufung di mus@fajar.co.id
Telepon 0411-441441 (ext.1437).