SABTU, 15 JANUARI 2011 | 01:31 WITA | 13600 Hits
Share |

Banjir Bandang Terjang Pangkep dan Maros
Datang Tiba-tiba, Ketinggian Air Sampai Dua Meter

MASIH RAWAN. Banjir bandang yang menerjang Maros pada Rabu sore, 12 Januari lalu, masih menjadi ancaman bagi warga. Sampai kemarin, ketinggian air belum sepenuhnya surut akibat masih tingginya curah hujan. (ARINI/FAJAR)
Rabu sore, 12 Januari lalu, banjir bandang menerjang daerah bertetangga, Pangkep dan Maros. Dua warga setempat pun jadi tumbal. Bagaimana kejadiannya?

SUASANA berkabung menyelimuti rumah Syamsiah, 45, di Desa Tamangapa Kecamatan Ma’rang, Kamis sore, 13 Januari. Suami Syamsiah, (almarhum) Yusuf, 43, ditemukan dalam kondisi tak bernyawa, setelah 24 jam lebih menghilang akibat terseret banjir besar yang menerjang desanya Rabu sore, 12 Januari.

Keluarga serta penduduk di desa tersebut sempat kesulitan menemukan jenazah Yusuf yang tenggelam di sekitar persawahan miliknya. Namun setelah tim SAR dari Makassar tiba, jenazah Yusuf pun berhasil ditemukan.

Kades Tamangapa, Syekh Hasan Gaffar, mengungkapkan, jenazah Yusuf ditemukan tak jauh dari areal sawah yang digarapnya. Sebuah sungai membelah areal persawahan tersebut. Sawah (alm) Yusuf berada pada daerah yang rendah sehingga saat air bah datang, area ini paling cepat terendam.

"Dia (Yusuf, red) menuju sawahnya untuk menyelamatkan benih padinya. Ia khawatir benih yang sudah disemainya dan siap tanam itu hanyut dibawa air. Tak tahunya, justru dia yang begini (meninggal, red)," tutur Hasan Gaffar saat FAJAR melayat di kediaman (alm) Yusuf.

Saat meninggalkan rumahnya, lanjut Hasan Gaffar, air sungai sudah naik. Namun, keadaan itu tidak terlalu dihiraukan bapak dari dua anak itu. "Almarhum dan kami semua di sini menganggap ini banjir biasa," ucap Hasan Gaffar.

Hal senada disampaikan Syekh Gazali, 45. "Banjir besar seperti kemarin (Rabu, red) memang lama baru terjadi lagi. Setahu saya, kejadian begini hanya pada tahun 90-an," tutur tetangga mendiang Yusuf.

Makanya, tambah Gazali, saat banjir bandang menerjang, warga desanya yang terdiri atas 300-an kepala keluarga, kaget dan panik. "Kita kaget karena tidak menyangka akan banjir besar seperti itu. Makanya, warga di sini panik semua dan berusaha menyelamatkan diri dan barang seadanya saja. Di pikiran kami waktu itu, yang penting selamat dulu," ucap Gazali.

Ketinggian air, kata dia, benar-benar membuat warga cemas. "Ketinggian air tidak kurang dari dua meter. Pilar rumah sampai tak kelihatan," ungkap Gazali.

Berdasar penuturan warga, kejadian ini merupakan yang terbesar setidaknya dalam satu dasawarsa terakhir. Ada yang menyebut banjir bandang terakhir terjadi pada 1998, namun ada juga yang bilang 1996.

Faktanya, dalam belasan tahun terakhir, memang baru kali inilah rumah jabatan Bupati Pangkep ikut terendam. Hal itu juga diakui Bupati Pangkep, Syamsuddin Hamid, yang pada periode lalu menjadi ketua DPRD kabupaten.

"Barusan air naik setinggi seperti kemarin (Rabu 12 Januari, red). Setahu saya, kejadian serupa hanya pernah terjadi pada 1982 dan 1998," ucap Syamsuddin saat ditemui di Kecamatan Bungoro usai memantau dampak banjir.

Camat Ma'rang, Hasanuddin, membenarkan jika bencana banjir dahsyat ini sudah belasan tahun tidak pernah terjadi. "Ya, ini mungkin lagi siklusnya. Soalnya, kejadian begini terakhir terjadi belasan tahun lalu," ucapnya.

Khusus di Pangkep, salah satu wilayah terparah terkena dampak banjir adalah Kelurahan Sapanang Kecamatan Bungoro. Di wilayah ini bahkan sempat didirikan posko darurat oleh Tim Taruna Siaga Pemkab Pangkep. Di wilayah ini, beberapa warga dilaporkan terluka dan cedera ringan saat berusaha menyelamatkan diri dan barang-barangnya.

Di pihak lain, Ketua Komisi III DPRD Pangkep, Umar Haya, menduga adanya kerusakan hutan di hulu sungai. Indikasinya, kata dia, banjir tiba-tiba datang dalam volume tinggi.

"Banjir ini bisa jadi karena adanya kerusakan di bagian hulu sungai. Sebab kalau hutannya bagus, tidak akan banjir seperti kemarin (Rabu sore, 12 Januari, red). Tapi benar tidaknya dugaan saya itu, harus dilakukan pengkajian mendalam," ujarnya.

Belasan Rumah Hanyut

Selain Pangkep, banjir bandang juga menerjang sejumlah wilayah di Maros. Di daerah penyanggah Makassar ini, wilayah terparah akibat terjangan banjir bandang adalah Kecamatan Tompobulu dan Moncongloe.

Hamka, salah seorang tim relawan Badan Penanggulangan Bencana Daerah, menyampaikan bahwa di Tompobulu ada belasan rumah yang hanyut atau rata dengan tanah. Sedangkan di Dusun Malolo Desa Bonto Manai, sebuah rumah milik Jumalang bergeser sejauh lima meter.

Hamka mengaku, saat proses evakuasi tak hanya Jumalang yang terpukul melihat letak rumahnya yang bergeser, tapi Aso juga terlihat sangat terpukul melihat rumahnya sudah rata dengan tanah.
Saat mendatangi kedua desa itu, FAJAR tidak berhasil menemui Aso dan Jumalang. Aso dilaporkan syok dan terpaksa diungsikan ke rumah sanak keluarganya. Sementara Jumalang dievakuasi di Pustu Bonto Manai.

Camat Tompobulu, Arfai mengemukakan, korban akibat terjangan banjir bandang bisa saja lebih besar. Soalnya, kata dia, masih ada beberapa dusun yang belum bisa dikunjunginya. Selain karena faktor cuaca, juga karena jembatan di dusun Tala-tala telah rusak para.

"Mudah-mudahan saja tidak ada korban lain. Kami juga masih terus mengumpulkan informasi," ucap Arfai.

Saat FAJAR mendatangi Dusun Tompobulu, warga setempat sedang sibuk membersihkan rumah. Ada juga yang menjemur pakaian dan barang-barang yang sempat terendam. Jembatan kampung yang sempat rusak juga mulai dibenahi.

Pantauan FAJAR, beberapa rumah kayu mulai rebah. Yang tersisa hanya sengnya saja. Sedangkan untuk rumah batu, ada beberapa yang dindingnya rusak total.
"Air itu datang tiba-tiba. Dalam sekejap, sudah mencapai dua meter dan menghanyutkan apa saja yang ada," ungkap Dg Tika, warga Tompobulu.

Karena merasa cemas, ia segera mengajak keluarganya mengungsi ke rumah sanak saudaranya. "Bagaimana kami tidak cemas kalau air tiba-tiba tinggi begitu. Apalagi arusnya sangat deras," ungkapnya.

Meski begitu, dia tetap dilanda kecemasan. Soalnya, ibunya ngotot bertahan di rumah. "Meski saya dan anak istri telah mengungsi ke rumah saudara, hati dan pikiran saya tetap tidak tenang. Itu karena ibu saya tidak mau ikut mengungsi. Untungnya dia tidak apa-apa," tutur Dg Tika.
(ridwanmarzuki@gmail.com)

KOMENTAR BERITA "Datang Tiba-tiba, Ketinggian Air Sampai Dua Meter"


Redaksi: redaksi@fajar.co.id
Informasi pemasangan iklan
Hubungi Mustafa Kufung di mus@fajar.co.id
Telepon 0411-441441 (ext.1437).