KAMIS, 18 FEBRUARI 2010 | 09:25 WITA | 39855 Hits
Share |

Kramat Tunggak, Dulu Lokalisasi Pelacuran Kini Pusat Keagamaan (1)
Jadi Lokasi Wisata Rohani Setelah Nyaris Dibanguni Mal

(Foto, Faisal Syam/Fajar)
PULUHAN ibu anggota majelis taklim terlihat serius mengikuti pengajian di lantai 2 Masjid Komplek Jakarta Islamic Centre (JIC), yang terletak di Jalan Kramat Raya, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, Rabu 17 Februari.

Tak jauh dari tempat pengajian itu, sejumlah remaja dan orang tua tengah khusyuk membaca Alquran. Sementara di lantai dasar masjid tersebut, anak-anak sekolah dasar tengah belajar mengaji. Begitulah aktivitas sehari-hari di masjid raya yang terletak di kawasan yang dulunya dikenal sebagai areal lokasi resosialisasi (lokalisasi) pelacuran Kramat Tunggak tersebut.

Menyebut nama Kramat Tunggak, yang dikenal dengan singkatan Kramtung, yang letaknya tak jauh dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, ingatan banyak orang akan tertuju pada eks lokalisasi pelacuran.

Kini, kawasan yang dulunya jadi pusat kejahatan, tempat perdagangan narkoba, dan tempat esek-esek itu, telah berubah total 360 derajat menjadi sebuah kawasan pengembangan Islam. Dulu, di sinilah tempat orang-orang nakal penjaja seks, kini Kramtung jadi lokasi yang ramai dengan kegiatan ibadah.

Perubahan Kramtung jadi JIC, tidak terlepas dari kuatnya desakan ulama dan masyarakat sepuluh tahun silam. Desakan suci tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan penelitian dinas sosial dan Universitas Indonesia (UI) yang merekomendasikan agar lokalisasi tersebut ditutup. Alasannya sangat mendasar, lokalisasi itu menimbulkan banyak penyakit di tengah masyarakat.

Sejumlah elemen masyarakat memang secara terang-terangan menyatakan kegerahannya dengan lokalisasi yang bernama Panti Sosial Karya Wanita (PKSW) Teratai Harapan Kramat Tunggak yang dibuka pada tahun 1970-an itu. Lokalisasi ini dulunya mendiami wilayah RW 019 dan memiliki 9 RT. Menyikapi “protes” masyarakatnya, Gubernur DKI ketika itu, Sutiyoso, merespons positif dengan mengeluarkan keputusan penutupan lokalisasi tersebut, sembilan tahun kemudian, tepatnya pada 1999.

Tahun 2001, Bang Yos, sapaan akrab Sutiyoso mengemukakan gagasan untuk membangun JIC di lahan eks lokalisasi tersebut. Sebelumnya muncul ide dari beberapa kalangan yang mengharapkan Pemprov DKI Jaya untuk membangun pusat perbelanjaan atau pusat perkantoran di Kramtung. Tapi ide itu ditepis Bang Yos yang lebih memilih menggagas sebuah kawasan yang diperuntukkan untuk kegiatan keagamaan.

Gagasan Bang Yos itu disampaikan kepada Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah waktu itu, Azyumardi Azra, di New York, di sela-sela kunjungannya ke PBB. Ide itu mendapat respons yang baik dari masyarakat, yang kemudian direalisasikan dengan membangun sebuah masjid.

Sejak saat itu, tercatatlah sebuah sejarah baru. Lokalisasi Kramtung yang telah beroperasi kurang lebih 30 tahun, dengan 1.615 pekerja seks komersial dan menjadi lokalisasi terbesar kedua di Asia Tenggara, berubah total menjadi pusat kegiatan keagamaan.

Lantas kemana para PSK itu setelah JIC dibangun? Mereka ternyata tidak dibiarkan berkeliaran. Pemprov membina mereka dengan mengajarinya melakukan kegiatan berusaha. Di antara mantan PSK itu, ada yang telah menjadi pedagang, meski skala usahanya masih kecil.

Data yang diperoleh menyebutkan, pada mulanya lokalisasi Kramtung hanya memiliki 300-an Pekerja Seks Komersial (PSK) dan 76 germo. Seiring dengan perkembangan wilayah yang lokasinya tidak jauh dari pelabuhan Tanjung Priok itu, jumlah PSK terus bertambah. Saat ditutup, jumlah PSK di Kramtung sudah mencapai angka 1.615 orang, dengan 258 orang mucikari. Mereka tinggal di 277 unit bangunan yang memiliki 3.546 kamar.

Menurut Rina Uswatun Khazanah, salah seorang petugas yang membidangi divisi penyiaran dan hubungan masyarakat JIC, masjid yang dibangun dalam kompleks itu bisa menampung 20.680 jemaah. Ruang salat utama masjid JIC sangat menumental dengan bentangan 68 meter tanpa tiang yang merupakan bentangan tanpa tiang terbesar se-Asia Tenggara.

Masjid ini juga selalu diramaikan dengan pengajian majelis taklim ibu-ibu di wilayah Jakarta. Belum lagi acara keagamaan, seperti maulid, festival bernuansa Islam, bazaar, pelatihan, dll. Hampir setiap hari, sejumlah wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara mengunjungi tempat ini untuk melakukan wisata rohani.

Bukan hanya itu, tempat ini pun menjadi tujuan untuk para pencari ilmu yang ingin mempelajari tentang Islam. Beberapa waktu lalu, sejumlah mahasiswa datang dari Amerika, Timur Tengah, dan Asia, datang ke tempat ini.

Menurut Rina, kehadiran JIC bukan sekadar sebagai tempat ibadah semata, melainkan juga diharapkan menjadi salah satu simpul pusat peradaban Islam di Indonesia dan Asia Tenggara yang menjadi simbol kebangkitan Islam di Asia dan Dunia. (*)

KOMENTAR BERITA "Kramat Tunggak, Dulu Lokalisasi Pelacuran Kini Pusat Keagamaan (1)"


Redaksi: redaksi@fajar.co.id
Informasi pemasangan iklan
Hubungi Mustafa Kufung di mus@fajar.co.id
Telepon 0411-441441 (ext.1437).