SELASA, 01 JUNI 2010 | 02:24 WITA | 5388 Hits
Share |

Mengenang Ramdan, Pasien Transplantasi Liver Pertama RSUD dr Soetomo (3-Selesai)
Tatapan Matanya Memaksa Dokter Tidak Menyerah

KRITIS PERTAMA. Konsultan ICU dr Philia (pegang dokumen), dr Arie (berjilbab di belakang Philia), internis dr Bagus (baju hijau), dan para calon spesialis mendiskusikan kondisi Putra pascatrepanasi (operasi otak) pertama. (FOTO NANY WIJAYA/JAWA POS)
Putra alias Ramdan sangat menyukai lagu Jangan Menyerah-nya díMasiv. Dia memang tak pernah menyerah. Istimewanya, dia juga mengajak semua dokter dan perawat untuk tidak menyerah. Caranya? Inilah catatan wartawan Jawa Pos (Grup Fajar) Nany Wijaya yang mendampinginya sejak jelang operasi hingga sepekan sebelum Ramdan meninggal.

Suasana ICU di lantai 2 Gedung Bedah Pusat Terpadu (GBPT) RSUD dr Soetomo, Surabaya, itu kini kembali seperti semula. Itu terlihat sejak 25 Mei lalu atau dua hari setelah Putra alias Ramdan Aldil Saputra meninggal.

Sejak tanggal tersebut, tak ada lagi dokter atau perawat ICU yang kebagian tugas jaga khusus di ruang isolasi khusus di pengujung ICU, dekat jalan menuju ICU bayi (NICU). Sebab, sejak 23 Mei lalu pasien khusus yang memerlukan penjagaan khusus di ruang itu, Ramdan Aldil Saputra alias Slamet Hadi Saputra, telah tiada.

Setelah mengalami masa superkrisis selama kurang lebih 3,5 jam, pada sekitar pukul 04.55 WIB, 23 Mei 2010, bocah hebat berumur 3,5 tahun tersebut mengembuskan napas terakhir. Menyerahkah dia kepada penyakitnya? Atau, dia sudah tidak tahan lagi dengan siksaan rasa sakitnya? Tidak. Saya yakin, anak guru asal Trenggalek tersebut tidak menyerah.

Dia memang bukan tipe anak yang mudah menyerah. Meski bisa bicara, Ramdan bisa menggunakan tatapan matanya untuk mengajak para dokter dan perawat sehingga tidak menyerah dengan kondisinya.

Dia ingin hidup sehat, itulah yang membuatnya tak pernah menyerah.Kalau mau menyerah, barangkali dia sudah meninggal empat hari setelah operasi transplantasi dulu. Yakni, ketika otak kanan depannya mengalami perdarahan hebat.

Ketika itu terjadi, konsultan ICU dari Oriental Organ Transplant Center (OOTC), dr Wang Yu, dan rekannya, Deputi Direktur Ellen Wei, sudah memperkirakan akan kehilangan dia.

Dia mungkin juga sudah meninggal, seperti yang saya dan tim dokter serta perawat takutkan, ketika menjalani pembedahan otak kedua sehari setelah operasi otak pertama. Ada beberapa masa kritis luar biasa yang harus dia lalui dalam sebulan itu. Perjuangan Ramdan untuk hidup memang sangat luar biasa. Kemauan hidupnya juga tak kalah hebat.

Kalau bukan karena kemauan hidup yang luar biasa, tak mungkin dia bisa bertahan ketika mengalami perdarahan hebat pada 6 Mei lalu. Tepatnya, kala dia mengalami perdarahan usus yang amat hebat, yakni lebih dari 16 liter.

Padahal, total darah bocah seberat 10 kilogram seperti dia tak lebih dari 0,8 liter (800 cc) atau 80 cc per 1 kilogram berat badan. Orang dewasa pun tak akan sanggup bertahan dalam kondisi tersebut.

Berdasar sisi medis maupun akal sehat, sulit rasanya membayangkan bagaimana bocah sekecil Ramdan bisa bertahan untuk melawan kondisi kesehatan yang begitu buruk. Hebatnya lagi, dia tak pernah menunjukkan wajah sebagaimana seorang yang sakit berat.

Sesekali, wajahnya tampak seperti seorang yang sakit. Tetapi, itu tidak lama dan tidak seperti seorang yang sakit parah. Sesekali juga matanya sayu. Tetapi, itu juga tidak lama. Bahkan, dalam keadaan yang paling parah, dia masih tersenyum, bercanda, dan bergaya setiap kali melihat kamera saya. Itulah Ramdan, yang lantas akrab dengan panggilan Putra, sesuai nama barunya.

Siapa pun yang pernah merawat atau bertemu dengannya, tak terkecuali para wartawan, pasti jatuh cinta, selalu terkenang, dan tak bisa melupakannya. Karena itu, setiap kali bertukar kabar tentang Putra, kami yang tergabung dalam tim liver transplant RSUD dr Soetomo (RSDS) hampir tak pernah menggunakan kata Putra atau Ramdan sebelum dia berganti nama.

Kami selalu memanggilnya dengan anak kita, bayi kita, anakku, bayiku, putraku, atau Ramdan-ku. Sebutan itu juga digunakan oleh Direktur RSDS Dr dr Slamet Riyadi Yuwono DTM&H MARS.
Sejak awal, kami semua tahu bahwa Putra belum bisa berbicara. Tetapi, kami semua tak pernah memperlakukannya sebagai bayi yang belum mengerti apa-apa.

Kami selalu mengajaknya bicara, seakan dia orang dewasa yang paham akan maksud kami. Dokter dan perawat juga selalu mengomunikasikan semua tindakan medis yang bakal dilakukan kepadanya. Dari sikapnya, kami tahu bahwa dia paham terhadap apa yang kami lakukan. Contohnya, dia berontak karena ingin melepas tangannya yang diikat di ranjang.

"Jangan ditarik-tarik, Nak. Nanti tanganmu sakit. Tanganmu capek, ya? Pengin gerak, ya? Kupanjangkan ya talinya," kata konsultan ICU dr Arie Utariani SpAn (KIC) pada hari pertama Putra sadar dari pengaruh bius operasi transplan itu. Seperti paham akan kalimat tersebut, Putra lantas berhenti menarik tangannya dan menatap dr Arie dengan penuh harap.

Dua minggu kemudian, ketika luka operasi di kepalanya sudah nyaris kering, dia mengangkat lengan kanannya ke kepala untuk menggaruk luka yang masih dibalut perban itu. Konsultan ICU dr Philia Setiawan SpAn (KIC) yang kala itu berdiri di sebelah kirinya bilang, "Kenapa, Ramdan? Gatal, ya?

Tolong, kau gosok-gosok perbannya," pinta dr Philia kepada seorang dokter calon spesialis anestesi yang saat itu berada di dekat kepala Putra. Mendengar itu, Putra lantas menurunkan tangannya. Dia mulai menggaruk bagian lehernya yang tertutup "kalung" perban untuk tracheostomy (alat yang dijahitkan ke lehernya guna memudahkan pemasangan alat bantu napas atau ventilator).

"Yang itu juga gatal? Jangan digaruk sendiri, ya, nanti luka," kata ibu dua anak tersebut kepada Putra. Yang diajak bicara berhenti menggaruk, melirik Philia dengan mata bolanya. Lalu, secepat Philia mengatakan, "Mas, tolong, lehernya itu juga digarukkan pelan-pelan," pandangan Putra langsung bergeser ke wajah si calon spesialis, seakan memerintahkan hal sama. Itulah Putra alias Ramdan.

Tapi, itu bukan satu-satunya kenangan yang sulit dilupakan tentang Putra. Karena itu, pada 26 Mei lalu, sepulang dari AS, paginya saya langung ke ruang isolasi tersebut dengan ditemani ahli bedah yang menangani pengambilan limpa dan transplantasi liver Putra, dr Poerwadi SpB SpBA. Saya sekadar ingin mengobati rasa kehilangan dan sedih saya yang tidak sempat mengucapkan "selamat tinggal" kepada Putra.

Ternyata, rasa kehilangan itu terasa semakin dalam saat saya membuka pintu luarnya. Saya lihat, ruang tersebut sudah sepi dan lapang. Tiang gantungan baju steril juga sudah tak ada di situ. Dua meja yang bagian atas dan laci-lacinya dulu penuh dengan spet, obat suntik, penutup kepala, masker, alat steril portabel, dan keperluan pengobatan Putra juga bersih.

Yang ada di atasnya hanya satu kontainer plastik kecil berisi dua botol bening bertutup biru dan kuning tanpa dot yang sudah disterilkan. Botol-botol itu milik Putra. (*)

KOMENTAR BERITA "Tatapan Matanya Memaksa Dokter Tidak Menyerah"


Redaksi: redaksi@fajar.co.id
Informasi pemasangan iklan
Hubungi Mustafa Kufung di mus@fajar.co.id
Telepon 0411-441441 (ext.1437).