MINGGU, 18 JULI 2010 | 04:15 WITA | 5518 Hits
Share |

Raih Doktor Cum Laude

DISERTASI. Menteri Negara BUMN Mustafa Abubakar (kanan) saat menerima disertasi Tanri Abeng,Sabtu 17 Juli. (FOTO YULHAIDIR/FAJAR)
Komisaris Utama PT Telkom Tanri Abeng menyelesaikan pendidikan strata 3 (S3) di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Mantan Menneg Pemberdayaan BUMN ini berhasil mempertahankan disertasi berjudul Kebijakan Profitisasi Sebelum Privatisasi Melalui Reformasi Struktural untuk Pendayagunaan BUMN Sektor Perkebunan, yang membawa dia menjadi doktor ke 1.232 dengan predikat cum laude.

Dalam ujian terbuka promosi doktor di Sekolah Pascasarjana UGM Sabtu 17 Juli, Tanri Abeng menggambarkan konsep profitisasi dan privatisasi BUMN di hadapan tim penguji dan promotor pada sidang terbuka program doktor selama 15 menit. Bertindak sebagai promotor Prof Dr Nopirin, serta ko-promotor Prof Dr Mochtar Masoed dan Prof Dr Djokosantoso Moeljono.

Sedangkan sebagai penguji, Prof Dr Hartono, Prof Dr Ichlasul Amal, Prof Dr Abdul Halim, Dr Setyanto P Santosa, Prof Dr Miftah Thoha, serta Prof Dr Soemitro Remi. Tanri sendiri mengambil program multidisiplin dalam program doktoralnya tersebut.

Melalui desertasinya, Tanri mengemukakan konsep pemberdayaan BUMN melalui program profitisasi BUMN sebelum dilakukan privatisasi BUMN. Sebelum privatisasi, manajemen perusahaan negara harus melakukan langkah dan kebijakan profitisasi serta melakukan proses restrukturisasi agar perusahaan memiliki nilai jual yang lebih tinggi.

Sehingga perusahaan memperoleh dana untuk mengembangkan usaha. Sedangkan pemerintah memperoleh dana dari penjualan sebagian saham yang dimiliki untuk pembayaran utang. Hasil profitisasi juga dapat menunjang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara melalui pajak dan dividen yang lebih tinggi.

Ia menambahkan, dasar proses penciptaan nilai badan usaha milik negara sebelum privatisasi melalui restrukturisasi hanya dapat terealisir jika seluruh kekuatan politik bangsa, minimal Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat, sepakat untuk melakukan proses depolitisasi dan debirokratisasi di perusahaan negara.

Dipilihnya judul disertasi tersebut, kata Tanri karena dia menilai reformasi BUMN telah tergelincir dari arah dan cita-cita reformasi yang bertujuan menjadikan BUMN sebagai korporasi untuk menciptakan nilai yang berbasis pada profitisasi.

"Pengalaman langsung saya membawa kepada kesimpulan bahwa bagi korporasi, profit tidak saja dibutuhkan, tetapi juga diperlukan untuk mempertahankan pertumbuhan yang berkelanjutan," kata pria kelahiran Selayar 7 Maret 1942 ini.

Dipilihnya BUMN perkebunan sebagai fokus bahasan dan penelitian, menurut Tanri Abeng, karena nilai tambah ekonomi atau economic value added (EVA) BUMN perkebunan justru mengalami angka negatif (value destruction).

Lelaki yang pernah dijuluki manager satu miliar ini menilai upaya mereformasi BUMN dalam beberapa tahun terakhir dinilai telah keluar jalur. Kekuatan politik dan birokrasi dianggap sebagai penyebab utama.

Akibatnya, reformasi gagal menciptakan nilai tambah terhadap BUMN sesuai sasaran. Tanri mengatakan, misi kementerian tersebut telah meleset dari arah reformasi. Misi utamanya adalah menjadi BUMN korporasi, bukan birokrasi, untuk menciptakan nilai yang berbasis pada profitisasi.

Sayangnya, profitabilitas BUMN di Indonesia, kalaupun ada peningkatan, dinilai masih jauh dari potensi yang dimiliki. Pada 2008, misalnya, laba yang dibukukan 132 BUMN hanya sebesar USD 8,6 miliar. Jumlah itu jauh di bawah laba satu BUMN minyak asal Malaysia, Petronas, yang mencapai USD 20,2 miliar.

Dalam ujian desertasi itu, hadir antara lain, Menteri BUMN Mustafa Abubakar, Menteri Keuangan Agus Martowardojo, Ketua DPD Irman Gusman, dan mantan Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal. Turut hadir anggota Wantimpres Prof DR Ryaas Rasyid, anggota DPR RI Syamsul Bachri, M Jafar Hafsah, dan Emil Abeng. (die)

KOMENTAR BERITA "Raih Doktor Cum Laude"


Redaksi: redaksi@fajar.co.id
Informasi pemasangan iklan
Hubungi Mustafa Kufung di mus@fajar.co.id
Telepon 0411-441441 (ext.1437).